Senin, 31 Agustus 2015

Ikrar Mimpi

31 Agustus 2015 

Malam bercerita tentang hangatnya keluarga, damainya perbedaan, nikmatnya ketika sunyi bersama-Nya. Malam ini, ingin ku mainkan jemariku didepan laptop untuk menulis kisah indah bersama mereka. Malam yang akan menjadi saksi ikrar mimpi-mimpi kami, aku dan adik-adik lorongku. -lorong 3 A5 Silvasari-
Aku percaya, insan yang sukses adalah mereka yang punya mimpi-mimpi besar dan memulainya dengan perkerjaan yang kecil. 
Hal pertama yang ingin kudengar sebelum mereka menjalani kuliah reguler mereka adalah mimpi mereka. Mimpi yang terdengar lantang 


Maka, milikilah mimpi besar karena Allah Maha Besar. 



Kamis, 27 Agustus 2015

Saksi Sejarah

Membuka-buka catatan lama, ternyata ada salah satu puisi yang pernah saya buat. Puisi yang membuat saya bangga untuk menjadi seorang jurnalistik. Yah, mimpi lama dan sampai sekarang masih saya harapkan adalah menjadi seorang jurnalistik. Meski terkadang mimpi itu fluktuatif datang dan pergi. 
puisi yang saya buat satu tahun silam ini, saya dedikasikan untuk para pahlawan jurnalistik. Pahlawan yang banyak menguntai cerita dan memperkenalkan kita pada banyak tokoh sejarah. para pahlawan jurnalistik yang harum akan tulisannya namun tersembunyi akan identitasnya. 
SAKSI SEJARAH
Tinta hitam tanda kedukaan
Merangkai runtutan peristiwa perjuangan
Tinta Hitam yang menemani tumpah ruah merah darah dalam sejarah
Menyongsong arti bebas
Mengayunkan pena, menjabarkan peristiwa  
Berperang dengan ribuan ancaman
Gagah berani ikut dimedan perang
Pena adalah senjatanya
Kertas bentengnya
Tinta yang mengingatkan
Bahwa sejarah tidak akan pernah terulang
Tapi setidaknya masih bisa dikenang
Tinta hitam saksi sejarah
Menjabarkan setiap detik untaian kisah
Kau tulis nama-nama pahlawan 
Tapi kau lupa sisipkan namamu
Namamu Harum tanpa jejak
Terima kasih pahlawan bangsaku
Terima kasih pahlawan pejuang jurnalistik

Antara Aku, Hujan dan Bintang

Ritmenya membuatku terhanyut. Entah kunci nada apa yang dimainkan, hingga aku selalu dibuat perpesona. Irama yang sederhana, air yang jatuh dari langit. Itu alasan aku menyukainya, hujan. ketika hujan, otakku bisa berpikir lebih cepat. Mungkin semua organ tubuhku dibuat menari olehnya. Aku berlebihan? Tapi ini benar J. Hujan, menyamarkan air mata saat sedih? Itu cerita klasik dan bukan diriku. Hujan itu kebahagiaan bukan kesedihan :D. Hujan adalah kehidupan. Kadang kita tak sadar, menyalahkannya dalam segala aktivitas kita. Hmm.. padahal Sang Pencipta telah menurunkan banyak keberkahan bersamanya.
Aku begitu menyukai hujan, begitu juga bintang. Yah, kamu, Bintang. Yang siang dan malam selalu ada. Yang kala malam kamu begitu menawan. Kerlap kerlip dalam hitamnya langit. Yang kala siang, kamu begitu berani. kamu panas, semua ikut panas. Kamu sejuk semua ikut sejuk.

Kamu suka hujan, begitupun aku. Lalu hujan datang untuk membuat senang siapa? Untuk kamu? untuk aku? Apa mungkin untuk kita. Tapi aku tak percaya diri. Kurasa hujan lebih senang datang untukmu. Kamu bintang, namamu sudah banyak dikenal. Aku? Aku hanya gadis yang bersembunyi dibalik jendela. Melihat hujan tanpa bisa menyentuhnya. Dibalik jendela, aku hanya bisa melihatmu bersama hujan. ada risau dalam diriku. Bukan karena aku cemburu hujan bersamamu. Tapi aku khawatir kamu kedinginan. Aku khawatir kamu terbuai bersama hujan hingga kamu lupa bahwa dia akan membasahimu dan membuatmu sakit. Tak bisakah kau bersamaku saja. Memandang hujan dibalik jendela sambil berdoa bersama. Bintang, disini, dibalik jendela aku hanya ingin berkata aku bukan cemburu padamu tapi aku teramat mengkhawatirkanmu.

Rabu, 26 Agustus 2015

Bogor, 16 Juni 2015 

Aku teringat, kisah kaum Anshor yang menyambut kehadiran kaum muhajirin dengan penuh kehangatan dan kebahagian. Dalam kisah mereka, aku belajar akan makna persaudaraan. Dan kini aku telah siap menjadi tuan rumah yang menyambut tamunya. Bak kaum anshor, aku akan menyambut mereka dengan penuh kesenangan.
Diujung penafsiranku, aku membayangkan persembahan-persembahan yang  akan aku suguhkan pada mereka. Kesiapan imanku, harus lebih kudahulukan untuk menyambut mereka, karena aku tak ingin bertemu dengan meraka dalam keadaan hatiku yang rusak. Kuperbaiki niat, bahwa semua pertemuan adalah Allah yang mengatur, dan aku hanya berperan sebaiknya. Ku luruskan niatku bukan untuk dunia. Dan aku tak luput untuk berdoa karena aku tahu Yang Maha Membolak Balikan hati, Yang Maha Mengikatkan hati adalah Allah swt. 

Catatan lama [agustus 2014] Surat, Peta, Kapal Laut "Batas dunia antar langkah "




Untaian kalimat dengan tata bahasa syahdu mengikat pengembara dakwah awam dalam taklimat-taklimat kebaikan. mengira-ngira seperti apa dunia yang akan dijalaninya setelah sepucuk surat itu diterimanya. Sepucuk surat yang diakhiri dengan surat cinta Sang Pencipta, Allah SWT. Sepucuk surat yang menjadi titik awal perjalanan kehidupan yang sesungguhnya. Dan dititik inilah perjalanannya dimulai.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: (216

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)

Pengembara yang hijrah dari kalbu egois menuju kalbu dititik terdalam manusia yaitu keimanan. Pengembara yang dulunya hanya akan bergerak untuk dunia yang membayarnya secara nyata -selayaknya materi, pujian, dan hal dunia lain yang menguntungkan-. Tapi semenjak adanya surat itu, pengembara ini tak lagi menginginkan imbalan-imbalan yang hanya memberikannya keuntungan sementara. Kini ia lebih tak tahu diri karena menginginkan kenikmatan yang abadi dan menginginkan kehidupan damai yang abadi. sejak dulu ia selalu mengumpulkan mozaik-mozaik dari kompas yang akan mengantarkan dan menunjukan jalan menuju kenikmatan yang ia hasratkan. Hanya saja perjalanannya sudah terlalu panjang tanpa adanya pertambambahan yang signifikan pada mozaik yang ia dapatkan. 
Sampai akhirnya, surat itu datang bersama peta emas yang didalamnya tergambar berbagai jalan pilihan menuju tempat yang diinginkannya. Bersamaan dengan surat dan peta emas itu pun, ia mendapatkan sebuah tiket perahu untuk bergabung dan berlayar bersama menuju tempat itu. Dua keadaan yang harus dipilihnya saat itu. tak ada lagi penundaan. Tetap menjadi pengembara seperti sebelumnya, menyusuri jalan darat yang lurus dan tanpa hambatan tapi begitu panjang dan sendirian. Pilihan lainnya ikut berlayar bersama pengembara lain, mengarungi lautan yang kadang tenang dan kadang mengamuk tak karuan. 
Tak bisa keduanya dipilih karena jalan darat dan laut akan berbeda meski memiliki tujuan yang sama. Tak bisa terlalu lama berpikir karena kapal harus segera berlayar dan tak bisa kita mengganti pilihan ditengah perjalanan karena kapal tak akan kembali untuk mengantarkan kita pulang, dan tak akan juga kembali untuk mengajak yang tertinggal karena berubah pikiran. Di titik ini, satu tindakan pilihan, akan menentukan perjalanan. 

Dan, pengembara ini mulai berjalan, perlahan demi perlahan. langkah pertama yang menentukan pilihan. Langkah kedua yang menguatkan nyali. Langkah ketiga yang menandakan diri bahwa tak akan menengok lagi pilihan lainnya.  Langkah keempat yang mulai terlihat gambaran dari pilihannya. Langkah kelima yang membuang mengencangkan perbekalannya. Langkah keeman akhir langkah pilihannya.  Dan langkah ketujuh, awal perjalanan barunya. Pilihan yang disambut dengan uluran tangan dan pelukan banyak pengembara lainnya. Inilah batas dunia langkah keenam dan ketujuh.